Kobar 1
1. Mindset, Niat, Tujuan.
Jangan bosen meski udah banyak banget yang membahas tentang mindset. Karena memang sangat penting dan akan menentukan cara apa yang akan kita terapkan dan seberapa kuat kita bertahan.
Ibarat bangunan, mindset itu pondasi. Kalau kita mau bangun gedung yang tinggi, pondasinya harus sesuai biar gedungnya kokoh.
Jangan sampai kita mau bikin rumah 3 lantai, tapi pake pondasi gubuk derita. Kokoh enggak, dramatis iya.
Ibarat tanaman, mindset itu akar yang menopang batang pohon. Akarnya kuat, pohonnya kokoh.
Sama dengan membangun tim. Kalau mau tim kita kuat dan solid, pondasinya harus kuat. Mindsetnya harus tepat. Ketika kita ada kendala dalam membina tim, kita nggak gampang patah semangat.
Jadi apa sih sebenernya mindset itu?
Bagi saya, gampangnya mindset itu adalah cara pandang dan cara berpikir kita tentang sesuatu hal.
Kalau dalam membangun tim, berarti cara berpikir kita tentang segala hal yang berkaitan dengan membangun tim reseller.
Apakah kalau punya reseller itu:
•Kudu pintar dan wow dulu?
• Seperti bos dan bawahan?
• Harus bisa kasih diskon gede-gedean?
• Reseller kudu ditarget?
• Reseller kudu jualan, jualan dan jualan?
• Reseller adalah hak milik dan gak boleh pindah leader/naik kelas?
Cara berpikir kita akan menentukan fokus kita dan tindakan yang akan kita lakukan ke depannya. Cara berpikir yang kurang tepat, membuat tindakan kita kurang pas dan kita salah fokus.
Lalu, mindset seperti apakah yang kita pakai dalam membangun tim reseller?
Mindset bisa banyak. Tapi mengarah ke hal yang sama. Masih dalam 1 jalur.
Beberapa mindset yang saya pakai adalah:
1. Membangun tim = berbagi.
Kalau kita membangun tim, kita harus siap berbagi.
• Berbagi tugas.
Reseller jualan, tugas kita belajar dan menyiapkan dan memfasilitasi apa yang diperlukan reseller. Kita yg keluar modal besar dengan mendaftar jadi distirbutor/agen lalu membuka kesempatan bagi siapapun yang mau ikut jualan dengan syarat mudah.
Atau, kita yg punya peluang dan berbagi kesempatan dengan reseller.
• Berbagi diskon. Misal sebagai distributor kita dapat disc 40%. Kita bisa bagi ke tim kita: Agen 30%, reseller 20%
Kalau masih agen dan diskon yang didapat cuma 25% gimana? Tetep. Sesuaikan pembagiannya. Bisa 10-20%.
Memang laba yang kita dapatkan akan lebih sedikit dibanding bila jualan sendiri. Tapi faktor kalinya banyak, jadi hasilnya akan lebih banyak dengan mengorbankan tenaga dan waktu yang lebih sedikit.
Keuntungan lain yang bukan berupa uang adalah, kita bisa mengerjakan pekerjaan lain yang lebih penting dan belum bisa kita delegasikan. Seperti bermain dengan anak, melayani suami, belajar/ikut kelas, olah raga atau ibadah.
• Berbagi beban. Reseller sebagai ujung tombak yang langsung bersentuhan dengan pembeli bisa membantu kita untuk memberi kritik, saran dan masukan.
Misal, apa saja yang disukai pembeli dari jenis produk, warna, model dan motif yang lagi hits dan banyak dicari dan saran lain yang sangat penting untuk kemajuan usaha kita. Kita sebagai leader, memenuhi kebutuhan tim dan menyesuaikan dengan pasar.
Reseller yang baru belajar dan gak punya modal, bisa gabung ke agen yang punya diskon lebih besar. Agen tentu akan terbantu mencapai target.
Agen yang modalnya sedikit, atau kemampuan bina timnya masih harus diasah, bisa bergabung dengan distributor yang bisa memberi kemudahan dan membagi diskonnya. Distributor juga akan terbantu dengan omset kecil-kecil para agen.
Seorang distributor akan membantu produsen menjual produknya sehingga produsen bisa fokus ke produksi dan menerima masukan. Apa saja yang harus dibenahi dan disiapkan agar tim reseller bisa total dalam menjual.
• Berbagi rejeki. Dengan membangun usaha, merekrut banyak reseller, kita berbagi rejeki.
Kita gak ngerti, mungkin ada seorang ibu single parent yang harus menghidupi dan sekaligus gak bisa ninggalin anak-anaknya untuk bekerja di luar rumah.
Makin banyak tim kita, kita akan membutuhkan admin yang mungkin butuh tambahan penghasilan untuk beli obat ibunya atau yang suaminya terkena PHK.
Coba kita renungkan dan selalu pakai kata berbagi sebagai koentji.
Kira-kira, apalagi yang bisa kita bagi sehingga pekerjaan kita jadi lebih mudah, lebih ringan, lebih cepat dengan hasil maksimal?
2. Reseller adalah teman.
Reseller itu mitra. Sederajat. Karena kita saling membutuhkan.
Gak ada yang lebih tinggi, gak ada yang lebih rendah. Gak ada yang lebih pinter, gak ada yang lebih bodoh. Yang ada, saling belajar satu sama lain.
Kalau kita menempatkan diri sebagai bos dan merasa harus lebih pinter, kita akan punya beban harus sempurna. Harus lebih. Dan harus diterima.
Ketika apa yang kita harapkan gak tercapai, kita kecewa dan patah semangat.
3. Leader gak harus lebih pintar
Ada banyak yang membebani diri dengan pikiran punya reseller harus lebih pintar segalanya daripada reseller.
Kalau di kelas covert selling, ada bahasan tentang what you think is what you feel.
Perasaan hadir dari proses kita berpikir. Kalau kita memikirkan hal sedih, maka perasaan kita juga jadi sedih. Karena perasaan kita sedih, tindakan kita akan mengikuti. Bisa menangis, mager, gak mood atau banyak makan.
Kalau kita punya pikiran bahwa punya reseller harus lebih pintar dari reseller, yang terjadi, kita punya beban perasaan sehingga tidak bisa total dalam menyampaikan dan melakukan segala sesuatu.
Kita akan melakukan kegiatan yang mungkin terpaksa kita lakukan.
• Harus ngasih materi
• Harus terlihat bijaksana
• Harus bisa mengarahkan
• Harus bisa ini itu.
Ketika realitanya kita tidak seperti itu, kita gak pede. Share apapun gak bisa loss.
Apalagi respon di group reseller sepi, kita down. Makin lama, makin males. Makin lama makin gak nyaman masuk group kita sendiri. Berakhir dibubarkan atau dianggurin.
Sebaliknya...
Kalau kita memikirkan sesuatu yang positif, Perasaan kita positif. Maka tindakan kita juga akan selalu positif.
Ingat!
Gak harus pinter fisika dulu untuk ngajar anak TK.
Gak harus pinter matematika dulu untuk jadi penjual online.
Gak harus omset milyaran atau jadi pengusaha sekelas Abu Rizal Bakrie untuk membuka kelas cara berjualan atau berbisnis.
Apa yang kita bisa aja. Apa adanya kita aja. Gak bisa ya bilang sejujurnya.
Leader gak harus pinter. Cukup lah memberi lingkungan yang positif bagi timnya. Punya kemauan untuk belajar dan nambah kapasitas diri. Punya skill komunikasi dan kemampuan leadership.
Dan itu semua bisa dilatih.
4. Niat & Tujuan
Mindset yang tepat juga akan menentukan niat dan tujuan kita dalam membangun tim.
Niatkan untuk berbagi kesempatan. Membantu orang lain yang kesulitan menambah penghasilan dan untuk meringankan beban hidupnya.
Karena banyak di luar sana yang membutuhkan tambahan penghasilan tapi gak bisa bekerja ke luar rumah. Gak punya modal untuk memulai usaha. Gak tau gimana memulainya.
Ingin mandiri financial karena ada banyak beban dan kesulitan-kesulitan lain yang mungkin dihadapi.
Tujuannya apa?
Kita sukses bareng-bareng. Melesat bersama. Jadi muslim yang kuat. Yang bisa sedekah lebih banyak. Yang mengejar dunia untuk kepentingan akhirat.
Dengan mindset yang tepat, kita gak gampang nyerah dan down ketika dalam prosesnya ada banyak kendala.
Ketika reseller gak ngiklan produk kita, pindah ke leader lain, reseller gak aktif, group sepi dan segala permasalahan tentang membangun tim reseller hadir, gak membuat kita down.
Tapi kita akan evaluasi. Kenapa dan apa yang harus diperbaiki terus menerus.
Kobar 1
Fb Dewi Ulunk
Terima kasih bund
BalasHapus