Kobar 2
2. Bonding
Karena salah mindset, banyak yang salah langkah diawal membangun tim. Kesalahan terbesar adalah ngarep alias berharap banget bahwa reseller yang gabung harus order, harus aktif, dan harus-harus yang lain.
Ketika reseller gak order, kecewa. Ketika group sepi meski udah dikasih materi, down.
Lama-kelamaan, kita males masuk group karena ngerasa bakal dicuekin dan merasa bangun tim susah dan reseler gak ada gunanya.
Tanpa terasa, getaran perasaan itu akan nyampek. Group gak ada nyawanya karena kayakinan leadernya gak ada.
Selain itu, sibuk mengeluh dan menimpakan kesalahan pada reseller tapi gak introspeksi diri dan gak memahami tipe-tipe resellernya.
Padahal seperti pada umumnya gabung di sebuah komunitas, reseller itu macem-macem.
• Ada yang newbi.
• Ada yang beda sistem jadi belum paham.
• Ada yang bingung.
• Ada yang malu.
• Ada yang gak pede.
• Ada yang mau muncul aja takut.
• Ada juga yang cuma nyimak tapi langsung gerak.
• Ada juga yang lupa kalau ada di dalam group tersebut . 😌
Seharusnya, kita memahami perasaan reseller. Kemudian mendahulukan membangun kedekatan dan membentuk kenyamanan dulu.
Kedekatan yang gimana?
Kedekatan secara emosional. Seperti ibu dan anak. Seperti kakak dan adik. Seperti sahabat. Yang membuat reseller merasa aman, nyaman, diterima dan dihargai.
Ini penting banget.
Tanpa rasa aman, mereka gak akan mau muncul dan berani nanya.
Kalau gak ada rasa diterima dan dihargai, mereka gak akan berani mengungkapkan kesulitannya.
Kalau gak nyaman, mereka gak akan loyal dan gak segan pindah ke leader lain.
Kalau mereka merasa aman dan nyaman, mereka gak akan takut untuk muncul di group. Mereka akan memilih curhat di group kita daripada group lainnya. Mereka akan loyal dan anteng ikut kita meskipun tawaran kemudahan dan diskon lebih besar di luar sana berseliweran.
Kalaupun pindah, itu hak mereka memilih karena reseller bukan barang yang bisa diperebutkan. Tapi manusia yang bisa memutuskan apa yang paling sesuai untuk dirinya sendiri.
Kalau sudah pada fase ini, maka otoritas kita terhadap mereka akan besar. Artinya, mereka punya rasa percaya dan nurut sama kita. Maka koentji udah kita pegang.
Kita akan mudah menggiring reseller sesuai harapan kita. Akan lebih gampang memasukkan insight-insight baru dan menyamakan frekuensi. Mereka akan membiarkan dirinya menerima apa saja yang kita sampaikan.
Gimana Caranya Bangun Bonding?
1. Gak ngarep
Kalau di kelas advance covert selling, ada bahasan tentang force (ngarep) dan power (pasrah/gak ngarep).
Ketika kita dalam kondisi force, maka kita justru membatasi diri kita sendiri dalam memaksimalkan usaha.
Sebaliknya, ketika kita dalam kondisi power, kita akan fokus ke usaha lalu memasrahkan hasilnya.
Ini seperti ketika ada orang yang nanya ke kita:
"Mbak, dokter anak yang enak di mana ya? Anakku takut sama orang baru"
Karena kita gak ada beban apapun, gak jualan dan gak dapet fee dari si dokter, dan betul berdasar pengalaman yang kita rasakan, kita pasti dengan santai dan loss cerita tentang dokter langganan kita.
"Aku dari anak pertama sampek ke 10 selalu ke dokter Anu. Orangnya enak banget. Sabar dan telaten. Ngasih obatnya juga generik. Yang murah dulu. Kalau saran vitamin juga yang ada di apotik atau mart-mart. Jadi gampang nyarinya. Trus dia tu njelasinnya mudah dicerna gituh. Makanya aku jadi semangat program hamil anak ke 11."
Kita loss ceritanya. Padahal gak dibayar dan gak dapat komisi. Karena niat kita bantu teman.
Sama aja ketika membangun tim reseller dan membangun kedekatan.
Jangan ngarep dulu. Biar kita bisa loss ngapa-ngapain terutama dalam bangun bonding.
Kita bakal semangat cerita apa saja. Apalagi reseller kita anggap teman dan niat kita membantu dia.
Lama kelamaan, apapun akan bisa dijadikan bahan. Kalau udah solid, kita serahkan group ke admin, lama-lama bisa kok mereka jalan tanpa kehadiran kita.
Selanjutnya, kita cukup hadir seminggu sekali atau sehari 1 jam atau waprian bagi yang ingin ngobrol dan kesulitan.
Ingat mindset awal bahwa reseller adalah teman.
Maka, mulailah bertingkah laku laku selayaknya dengan teman.
Gimana sih kalau lagi sama teman?
2. Ngerumpi
Mulailah ngobrol bahas apa saja. Bahas yang lagi hits boleh. Drakor. Masakan. Panci gosong atau apa saja.
Dengan menceritakan apa saja membuat banyak reseller merasa bisa masuk ke bahasan itu. Temanya gak ketinggian. Misal:
"Gaes...aku mau cerita tentang mantan. Eh itu kalau ada yang mau nyimak sih. Kalau enggak, ya udah. Aku ke dapur ajalah. Bikin endomih goreng cabe 10, telor ceplok sama nasi. Karena budaya kita, makan mie pake nasi."
Atau...
"Gimana sih. Udah niat bikin tumis kangkung. Udah belanja bumbu dan tahu, lha malah kangkungnya ketinggalan"
2. Cerita
Kita bisa cerita apa saja. Misalkan sekarang lagi ikut kelas Kobar, cerita aja.
"Gaess, doakan ya...aku lagi ikut kelas Kobar. Semoga bawa banyak insight. Nanti aku bagi di sini insyallah."
3. Foto
Kirim foto apa saja yang sekiranya bisa memicu reaksi. Bisa masakan. Bisa lucu-lucuan.
Tapi...
Belum tentu semua mau donlot foto kiriman kita. Untuk memicu mereka biar mau donlot, kita bisa pake kepsyen yang kepoable. Misal fotonya lucu tapi dikasih kepsyen:
"Ya Allah, sedih banget. Kok bisa sih kayak gitu..."
Mereka akan kepo dan mau donlot foto tersebut. Karena kepsyen gak sesuai dengan isi foto, mereka biasanya akan komentar.
4. Video / Video Tiktok
Kita bisa cari video apa saja, bisa juga donlot Viti (video tiktok). Boleh lucu, motivasi, atau apa saja yang menarik.
Tapi sama dengan foto, banyak yang gak mau donlot video. Kasih kepsyen yang kepoable biar mereka mau donlot.
5. Stiker
Banyak stiker lucu-lucu yang bisa kita pake untuk menghidupkan suasana. Stiker kadang saya pake untuk menetralkan suasana ketika abis bahas yang serius atau ketika saya sedang marah karen ada yang gak sesuai.
6. Tambahin sendiri. Biar kreatif.
Silahkan dicoba.
Komentar
Posting Komentar