Kobar 4
Kapasitas Diri
Sedikit cerita. Suatu kali saya dihubungin d hubungin seseprodusen. Produsen tersebut biasanya jualan langsung ke end user dan mempunyai toko offline di beberapa mall.
Karena pandemi, toko offline nya harus tutup dan mau gak mau, beliau harus mengganti cara dan sistem dengan mulai menjual secara online dan membangun tim.
Entah bagaimana awalnya, beliau tiba-tiba menghubungi saya dan tertarik ingin kerjasama dengan saya. Beliau cerita, sebelum menghubungi saya, beliau mengamati fb saya. Dari sana beliau sreg dan memutuskan untuk menawarkan kerjasama karena 1 alasan.
Saya tipe pembelajar dengan sering ikut kelas-kelas dan baca buku. Menurut pendapat beliau, bekerja sama dengan orang yang pembelajar itu berbeda daripada dengan orang yang gak menambah kapasitas diri.
Ternyata sering ikut kelas menjadi salah 1 value saya. Padahal ikut kelas sarana saya untuk upgrade kemampuan dan menambah kapasitas diri.
Pernah dengar istilah:
Kapasitas rejeki berbanding lurus dengan kapasitas diri?
Oke, kita bahas dulu. Apa sih arti kapasitas?
Kapasitas adalah: daya tampung.
Kalau kapasitas rejeki, artinya daya tampung, daya serap atau kemampuan kita menerima rejeki.
Kapasitas diri: artinya daya tampung/daya serap/kemampuan diri.
Dengan selalu nambah ilmu, mendapat halangan dan kemudian berusaha mencari jalan keluar, maka pengalaman kita bertambah. Kapasitas diri kita bertambah.
Kita makin lihai dalam 1 bidang. Makin paham dengan bidang tersebut. Makin peka terhadap potensi yang menghasilkan uang. Dengan sendirinya, penghasilan kita bertambah. Tawaran penghasilan datang sendiri. Maka kapasitas rejeki makin besar.
Sama seperti cerita di atas. Ketika saya selalu belajar untuk nambah kapsitas diri, tawaran kerja sama mengalir.
Jadi, ketika ada ungkapan bahwa:
Kapasitas rejeki berbanding lurus dengan kapasitas diri:
Artinya, dengan memperbaiki mindset, memperbanyak ilmu, sering praktek, nambah pengalaman dan bergabung dengan lingkungan yang tepat, akan memperbesar peluang rejeki kita.
Apa saja cara kita untuk bisa nambah kapasitas diri?
1. Rutin Posting.
Saya sering mencoba banyak cara, banyak gaya, banyak jam, banyak tema.
Setiap postingan akan menambah pengalaman saya. Mengasah kepekaan terhadap ide dan melatih skill dalam menulis.
Selanjutnya, saya akan evaluasi, mana yang lebih banyak respon dan interaksinya.
2. Mengamati
Kita bisa mengamati postingan siapapun. Bisa mastah. Bisa artis fb. Bisa juga reseller produk tertentu atau pembeli dan teman-teman kita yang enggak jualan online.
Amati cara ngiklannya. Produknya. Brandnya. Cara dia membuat story. Kalau bukan penjual, apa saja yang dia sering ceritakan. Bahasanya. Apa kebutuhannya. Pertemanannya. Produk yang dipake dan brand-brand yang dipake. Mungkin bisa jadi tambahan produk kita.
Bisa juga mengamati artis-artis/selebgram. Endorse an yang dia review. Mungkin ada produk yang cocok untuk dijual.
3. Ikut Kelas
Targetkan untuk ikut kelas berbayar. Minimal 1x 1 bulan. Setiap kelas akan memberikan banyak insight. Entah cara trainer menyampaikan materi, cara admin meramaikan group, bentuk materi, bahasa yang dipake dan management kelas.
Aktif di kelas juga akan menguatkan branding dan menambah teman. Mungkin kita bisa nambah ilmu dan informasi dari mereka. Atau bisa juga nambah pelanggan.
Yang perlu diingat, jangan cuma input saja tapi output juga kudu diperhatikan. Jangan cuma ikut kelas, tapi prakteknya enggak. Sayang banget.
Selain itu, targetkan naik kelas. Pahami kebutuhan dan ikuti kelas yang sesuai kebutuhan dan peningkatan bisnis. Bukan cuma ikut-ikutan, ngulang, dan ikut kelas-kelas itu-itu aja tapi gak disimak dengan alasan sayang duitnya ketika seharusnya sudah butuh dan waktunya ikut kelas yang lebih mahal.
4. Membaca
Buku adalah jendela dunia. Mungkin sekarang gak cuma buku. Internet, artikel, blog, IG , Tiktok dan lainnya bisa menambah wawasan tentang hal lain yang belum pernah kita alami.
Kalau di dunia bisnis dan jualan, tentu kita jadi bisa memahami alur, pola, mindset dan ngerti cara-cara baru yang bisa kita terapkan. Harapannya, selain bisa meminimalisir kegagalan, juga bisa membawa kita ke kemajuan.
Sayangnya, banyak yang gak suka membaca, gak sempat dan gak mau. Oke gak masalah. Mungkin kita bisa menambah wawasan dengan membaca yang lain. Misalkan:
• Artikel di google.
• Akun instagram atau fb para mastah, suhu atau pengusaha.
• Tiktok sesuai tema yang kita butuhkan
• Story akun-akun yang bisa memberi insight.
Jangan sampe, ada hari tanpa nambah ilmu tapi habis waktu untuk scroll tiktok yang kontennya kurang berisi. Kepoin IG gossip dan hal lain yang unfaedah.
5. Rutin Sharing
Dengan sering sharing dengan siapapun, di manapun, kita melatih logika dan kemampuan kita dalam menyampaikan sesuatu. Dalam menjawab pertanyaan. Mencari solusi. Dan menjelaskan dengan bahasa ringan.
Kemampuan komunikasi kita terasah. Ketika berhadapan dengan orang kita gak grogi. Ketika punya admin atau reseller, kita bisa mengarahkan.
Sharing di mana?
Mana aja. Mungkin diundang di group temannya. Sharing yang difasilitasi produsen. Bukan group sharing sendiri. Atau sharing di group resellernya sendiri.
6. Jangan Gengsi
Kadang kita merasa diri kita lebih, sehingga menutup diri tidak mau belajar ke orang yang kita anggap "di bawah" kita atau yang profesinya tidak bergengsi misal:
Pemulung, pengamen atau pedagang kaki lima atau ke agen, reseller dan dropshiper.
Padahal kalau kita mau rendah hati, gak gengsi, kita bisa banyak pelajaran dari mereka. Dari tips dan trik ngadepin pembeli dan tools yang membantu.
Saya juga banyak belajar kadang ke penjual terang bulan yang konsiten jualan sela 39 tahun. Ke teman yang resign dan jualan makanan via ojol. Ke beberapa produsen yang sangat humble. Gak merasa lebih. Mau add duluan dan memulai obrolan.
Terkahir, saya suka banget dengan quotes dari salah 1 guru saya di sebuah kelas.
Setiap tempat adalah ruang kelas.
Setiap orang adalah guru.
Setiap waktu adalah jam terbang.
Belajar bisa di manapun.
Pada siapapun.
Sampai kapanpun.
Terimakasih cikgu. Ilmunya keren sekali 😍
BalasHapus