Kobar 6

Menggiring


Sebenernya, materi ke 6 ini mau saya kasih judul Covert Selling. Karena memang konsep covert selling secara utuh itu sangat kepake dalam membina tim terutama untuk menyamakan mindset dan frekuensi biar mudah menggiring reseller untuk ikut dengan apa yang kita harapkan.

Jadi, covert selling itu bukan hanya bagaimana kita belajar bikin iklan tapi bagaimana kita mengupgrade diri menjadi penjual yang benar. Termasuk mengedukasi tim reseller kita. 

Dengan covert selling, kita akan menggiring mereka dan dengan sadar mereka akan terbawa menuju apa yang kita inginkan. Bukan mengajak, menawarkan apalagi memaksa mereka harus loyal ke kita. 

Karena dengan sadar, artinya mereka menerima apa yang kita arahkan dengan nyaman dan senang hati. 

Karena kita membangun tim, maka pembeli loyal kita yg harus sering kita iklanin adalah, reseller kita. 

Cara simplenya, gunakan cerita kapanpun, di manapun dan kepada siapapun. 


Apa saja caranya?

1. Jangan ngarep.

Masih saya ulangi bab Jangan Ngarep karena ini akan menentukan tindakan kita agar bisa All Out. Total. Loss. Tanpa beban. 

Kalau di covert selling, ada bahasan tentang force & Power.  *Pasrah."

Pasrah itu bukan menyerah. Tapi memaksimalkan usaha dan menyerahkan hasilnya pada Nya.

Rasa ini sangat penting diterapkan karena ketika dalam kondisi gak ngarep, kita bisa melakukan apapun dengan nyaman, tulus dan tanpa beban. 

Yang namanya tanpa beban, kita bisa akan santai. Lari bisa kenceng. Bisa habis-habisan. Kayak mencintainya... Uluh.

Kalau ada beban, langkah kita terhambat. Bisa jadi terseok-seok. 

Selain itu, dengan tanpa beban akan membuat kita gak kecewa bila hasilnya gak sesuai yang diharapkan. Karena fokus kita ke usaha dan prosesnya. 

Saya menggambarkannya semisal kita perjalanan ke Jogja. Kalau kita pengen banget segera nyampek, pasti di jalan gelisah. Buru-buru. Dikit-dikit lihat jam. Ngebut. Selap selip Dst. 

Bisa jadi nyampeknya malah lama. Karena ada aja kendala. Entah ban jadi aus, rem terbakar atau bahkan kecelakaan. 

Tapi ketika kita tenang, usaha maksimal, lalu pasrah senyampeknya, menikmati prosesnya, biasanya justru hasilnya malah maksimal. Kalaupun gak maksimal, kita gak akan kecewa karena kita sudah usaha. 

Oke, setting perasaan gak ngarepnya. 

Latihan. Latihan. Latihan. 

Tipsnya:

Niatkan berbagi manfaat.

Nolong orang. 

Banyakin kegiatan.


2. Cerita

Mau gak mau, kudu cerewet dan ember ya. Banyak cerita. Apa saja bisa jadi bahan cerita. Misalnya lagi ikut kelas covert selling, ceritakan ke resellernya. 

"Alhamdulillah, selesai ikut kelas covert selling. Ternyata cara iklanku salah gaess selama ini. Pantesan omset segini gini melulu. Alhamdulillah, pagi ini praktek iklan gak laku tapi malah pada gabung reseller."

Pasti reseller jadi kepo. Apa sih kelas covert selling itu? Jadilah membahas itu. Group rame. 

Nah, mulai dikomporin ikut covert selling. Bonus reseller jadi tambah pinter. Biar resellernya upgrade kapasitas diri. Biar tau belajar cara ngiklan, benerin mindset dan belajar gimana jadi penjual yang gak baperan. 

Kalau reseller pinter, yang untung leadernya juga. Selain itu, biasanya, yang udah ikut kelas bisa jadi affiliate. Setiap peserta yang dibawa, akan dapat fee. Mayanlah buat beli cilok. 

Jadi kadang ada banyak potensi rejeki di sekitar kita. Tapi kita mengabaikannya. Ada banyak cara menggiring dan menguatkan bonding, tapi kita terllau fokus ke yang wow. 

Saya rajin banget ngiklan kelasnya guru-guru saya. Karena bagi saya, jualan kelas itu melatih skill menjual dna menggiring yang akan kepake banget untuk merekrut dan membina reseller. 

Dan mungkin membantu orang lain yang sedang stag untuk mendapat pencerahan Karena saya bisa sampek sini juga karena banyak sekali ikut kelas sehingga bisa menemukan puzzle-puzzle yang hilang. 


3. Mantra.

Ada banyak mantra dalam covert seling. Tapi, 3 mantra ini favorit saya dalam membina tim. 

Change The Frame, Change The Game. 

(Ubah sudut pandang berpikirnya)

Change Their Minds, Change Their Mood

(Ubah cara berpikirnya untuk mengubah perasaannya) 

It's Not What You Said, It's How You Said

(Kadang gak perlu tema besar. Receh aja. Tapi, cara kita menyampaikannya kudu istimewa)


Sebagai leader, memang kita dituntut melatih skill komunikasi. Kita kudu bisa mengubah persepsi reseller terhadap suatu hal. Kudu bisa bersilat lidah pokoknya. 

Kalau reseller mikirnya ngiri terus, kita kudu bisa kasih gambaran dari kanan. 

Kalau reseller mikirnya negatif terus, kita kudu bisa ngasih sisi positfnya.

Emang kudu pencitraan bijaksana. Bukan gak jujur, tapi itu juga melatih kita untuk tetap positif thinking. 


Seperti saya bahas di materi 1 tentang mindset...

What You Think Is What You Feel. 

Apa yang kita pikirkan akan mempengaruhi perasaan dan menentukan tindakan kita. 

Sebagi leader, kita kudu bisa mengubah cara berpikir reseller, biar perasaan mereka tetep happy dan tindakan mereka sesuai. 


Contoh:

"Mbak, di shopee kok harga produk Tokorame disc ancur sampek 20% sih? Lha kita gimana nih yang reseller disc 20%?"

Di sini kita bisa mengubah frame berpikirnya dan menyisipkan mindset baru biar sefrequensi dengan kita.


"Untuk yang disc 20% itu akan kita laporkan ke pusat ya. Selebihnya, jangan tengak tengok ke shopee. Apalagi kalau kita jualannya gak di shopee.

Seluruh umat juga tau bahwa di shopee itu harganya ancur. Kalau ngikutin ancurnya harga, lelah Wak. 

Kita jualan tu mau nya laba dong. Kalau bisa labanya banyak. Umroh dah dibuka. Haji antrinya lama. Kalau uang gak ngumpul-ngumpul, bisa nenek-nenek baru berangkat. Padahal haji itu ibadah fisik.

Fokus ke peningkatan value diri aja. Bangun kedekatan sama pembeli. Tingkatkan servisnya. Fast respon. Yang ramah. Tetep rutin iklan apalagi di fb masih gurih. Kalau tengak tengok shopee sampek lupa gak ngiklan, jangan nyesel kalau pembelinya belok ke aku."

Jangan lupa, akhiri dengan stiker lucu. Ini akan mengubah serius jadi santai.


Contoh lagi:

"Mbak, aku udah ngiklan tapi cuma nanya-nanya doang. Belum ada yang beli."


Ubah pemikirannya biar moodnya berubah.


"Lho, bagus itu. Kalau udah ada yang nanya, berarti iklannya ngefek. Kalau perkara belum beli ya wajar. 

Mungkin mereka masih mikir. Masih meyakinkan diri. Masih nabung. Masih minta izin suami. Masih mengusahakan dananya.

Kita juga pernah gitu kan? Pengen barang tertentu, ngilernya berbulan-bulan?

Iklan terus aja. Masukkan kelebihan dan keunikan produk kita. Biar mereka makin kepo dan naksir. Kita gak pernah ngerti, pembeli mau beli produk kita setelah lihat iklan kita ke berapa. Dan tiap pembeli itu beda-bed fasenya dari mikir, naksir hingga mau beli."

Ada yang semenit langsung beli.

Ada yang seminggu baru beli. 

Ada juga yang sewindu 🤐

Jangan sampek, ketika dia siap beli, kita down udah gak mau ngiklan. Pas ada penjual lain ngiklan, ramah, fast respon, sikat deh.

Ingat tuh Pepsodent, Indomie, Susu Ultra. Udah puluhan tahun dan jadi brand no 1 juga masih ngiklan terus.


It's Not What You Said, It's How You Said It. 

Udah pernah dibahas kan di modul sebelumnya? 

Kadang bukan karena apa ceritanya. Tapi bagaimana cara kita menceritakan nya. 

Nyampek kah emosinya? 

Ada gak maknanya? 

Apa insightnya? 


Cara-cara ini sangat efektif untuk membangun bonding. Kemudian mengubah mindset reseller dan memotivasi untuk terus bertumbuh. Selain itu, cara ini bisa diterima dengan nyaman karena gak ada paksaan, aalan apalagi perintah.

Ketika mereka memahami, maka melakukannya dengan bahagia, sukarela, tulus. Ketika melakukan dengan bahagia, semua terasa ringan dan hasilnya terasa manis. 

Dari semua mantra tersebut, memang gak serta merta lihai. Tapi harus dilatih. Dengan cara sering praktek. Entah ngomporon reseller. Banyak ikut kelas belajar para guru, atau buka sendiri group sharing. 

Karena sesungguhnya, ketika kita sharing, bukan kota yang memberi ilmu, tapi kitalah yang banyak mendapat ilmu.



  

Komentar

Postingan Populer